ANEKA PERISTIWA
HABIS DIMARAHI SBY, MENDAG DAN MENTAN JUSTRU SALING MENYALAHKAN
Selasa, 16 Juli 2013

Habis dimarahi SBY, Mendag dan Mentan justru saling menyalahkan
Selasa, 16 Juli 2013 07:30:00

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memarahi menterinya yakni Menteri Perdagangan Gita Wirjawan dan Menteri Pertanian Suswono serta Kepala Badan Urusan Logistik (Bulog) Sutarto Alimoeso. Kemarahan SBY disebabkan belum turunnya harga sejumlah komoditas pangan khususnya daging sapi hingga saat ini. Padahal dirinya sudah memberi penugasan lama.

Setelah kemarahan SBY ini, nampaknya para menteri tersebut belum merubah kinerjanya. Pasalnya, menteri perdagangan dan menteri pertanian justru berselisih paham terhadap akar masalah tingginya harga daging.

Menteri Pertanian Suswono melihat, fenomena tingginya harga bahan pangan semata-mata bukan karena kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) tapi lebih mengarah ke aksi spekulan-spekulan yang memanfaatkan momen tersebut. Namun, pandangan ini sempat ditepis oleh Menteri Perdagangan Gita Wirjawan yang sangat yakin tidak ada aksi spekulan.

"Jadi sebetulnya, yang ada ini stoknya cukup. Jadi kan, atas nama kenaikan BBM, lalu kemudian, dia (spekulan) manfaatkan peningkatan yang tidak wajar dan memberatkan konsumen kan. Mudah-mudahan ada operasi pasar yang bisa kurangi harga," ujar Suswono.

Menurutnya, para spekulan membeli daging sapi sebelum adanya kenaikan harga BBM. Saat harga BBM naik diikuti kenaikan tarif transportasi, otomatis harga bahan pangan termasuk harga daging perlahan merangkak naik.

Sementara Menteri Perdagangan Gita Wirjawan mengaku sudah memerintahkan anak buahnya memantau perilaku pedagang memasuki bulan puasa. Hasilnya, tidak ditemukan ada aksi penimbunan, yang membuat harga beberapa bahan pokok naik, khususnya cabe rawit, bawang merah, dan daging sapi.

"Kalau kita bicara bawang, cabe rawit, daging sapi yang menjadi sorotan akhir-akhir ini, kita enggak melihat adanya oknum dalam skala yang cukup tinggi, ini lebih karena kekurangan pasok. Kita sudah cek tidak ada yang melakukan penimbunan," kata Gita.

Mendag berkukuh kenaikan harga disebabkan kekurangan pasokan. Terutama untuk komoditas bawang dan cabe yang panennya mundur akibat anomali cuaca. Terkait bawang, efek kemarau basah diperkirakan membuat panen di sentra-sentra seperti Brebes baru bisa dilakukan akhir bulan ini.

"Selain itu saya rasa tidak ada unsur-unsur spekulasi yang sangat perlu diwaspadai," tandasnya.

Ngadiran, Ketua Asosiasi Pedagang Pasar Tradisional Seluruh Indonesia, menilai selisih paham antara menteri perdagangan dan menteri pertanian ini merupakan bentuk lari dari tanggung jawab terhadap masalah. Tidak adanya ketegasan solusi membuat masyarakat semakin terbebani.

Dahulu, lanjutnya, pemerintah menyalahkan iklim sehingga menyebabkan pasokan kurang. Saat ini mereka justru menyalahkan ulah spekulan.

"Mereka saling lempar tanggung jawab, saling menyalahkan, padahal mereka berdua yang memberi izin impor. Kalau sudah kayak gini tidak ada yang mau disalahin," ujarnya saat dihubungi merdeka.com di Jakarta, Selasa (16/7).

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, atas masalah ini, juga mendesak pihak Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk memberi sanksi terhadap kementerian terkait dengan pemotongan anggaran. Ini didasari pemikiran bahwa sia-sia pemerintah menggelontorkan dana untuk operasional jika hasil kinerja tidak baik.

"Harusnya DPR memberikan sanksi kepada kedua kementerian untuk mengurangi anggarannya, karena tidak bisa mengendalikan produksi-distribusi-perdagangan pangan nasional, sehingga berdampak kepada rakyat dengan kurangnya pasokan, kelangkaan dan harga tinggi," jelas Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Pemberdayaan Daerah dan Bulog Natsir Mansyur dalam keterangan tulis yang diterima merdeka.com.[bmo]

(dikutip dari Merdeka/kki-wied)


BERITA ANEKA PERISTIWA LAINNYA
Lihat Berita Lainnya »