Sabtu, 31 Jul 2010
MBAY,
POS KUPANG.Com -- Dua orang guru diduga selingkuh. Pemilik tanah
kecewa lalu menyegel SD Katolik Kelewae, Kecamatan Boawae, Kabupaten
Nagekeo sejak Senin (26/7/2010) lalu.
Para murid SDK Kelewae yang merasa dirugikan karena aktivitas
belajar-mengajar terhenti melaporkan nasib mereka kepada DPRD Nagekeo
di Mbay, Jumat (30/7/2010).
Pengaduan para murid SD kepada Dewan -- peristiwa pertama di Nagekeo
itu terjadi menyusul aksi penyegelan SDK Kelewae oleh pemilik tanah
sejak Senin (26/7/2010). Sejak saat itu kegiatan belajar-mengajar (KBM)
berhenti sama sekali.
Para murid SD kelas 4, 5, dan 6 datang bersama 49 orang tua mereka dan
pengurus komite. Mereka meminta Dewan membantu menyelesaikan persoalan
itu.
Kepada FloresStar, Kepala SDK Kelewae, Margareta To mengatakan, pemilik
tanah menyegel pintu sekolah, baik SDK Kelewae maupun Taman Kanak-kanak
(TK) Budi Luhur Kelewae."Sejak hari Senin lalu kami tidak bisa sekolah
karena semua pintu disegel termasuk TK. Kami mau minta bantuan Dewan
untuk selesaikan ini. Kasihan anak-anak tidak bisa sekolah," tutur
Margareta.
Hal senada disampaikan Ketua Komite Sekolah, Fridus Mere. "Anak-anak
sudah lima hari tidak sekolah. Pemilik tanah mau membuka segelan
asalkan dua orang guru di sekolah tersebut harus dipindahkan. Karena
adanya dugaan perselingkuhan yang melibatkan guru tersebut," kata
Fridus.
Fridus juga mempertanyakan kebijakan pemerintah setempat atas kedua
guru tersebut. Menurutnya, tiga bulan lalu kedua guru tersebut sudah
dipindahkan ke sekolah berbeda, namun saat ini keduanya dikembalikan
lagi ke SDK Kelewae. Hal tersebut, kata Fridus, membuat pemilik tanah
merasa dilecehkan sehingga menyegel sekolah.
"Ada dua alasan, mengapa kami datang ke DPRD. Pertama, dua orang guru
yang sudah dimutasikan ke sekolah yang berbeda kenapa saat ini
dikembalikan lagi ke SD Kelewae? Padahal masyarakat menghendaki
keduanya pindah. Hal kedua, tidak ada lagi keharmonisan di sekolah,"
tutur Fridus.
Kepala sekolah dan ketua komite sekolah menyampaikan hal yang sama di
depan anggota DRPD Nagekeo yang terdiri dari Ketua DPRD, Gaspar Batu
Bata, Wakil Ketua DPRD, Stanis Paso dan Thomas Tiba, Kepala Dinas
Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (PPO), Yuli Lamuri, Kepala Badan
Kepegawaian Daerah Ceme Benediktus serta beberapa anggota Dewan
lainnya.
"Saya sedih bapak ibu datang dengan anak-anak sekolah saat ini. Sejak
saya menjadi anggota DPRD dari tahun 1991 saat masih di Ngada dulu, ini
kali pertama anak sekolah menghadap Dewan. Saya sudah dapat laporan
dari Komisi C bahwa persoalan di SDK Kelewae sudah selesai dan komisi C
saya tahu sudah bekerja, tetapi kok begini lagi," kata Ketua DPRD
Nagekeo, Gaspar Batu Bata.
Saat itu juga Gaspar langsung meminta penjelasan dari kepala sekolah
dan pengurus komite. "Apa sudah pernah lapor Kepala Dinas PPO atau
Bapak Bupati? Kalau sudah, kenapa sampai sekarang terjadi lagi," tanya
Gaspar yang langsung dijelaskan Margareta tentang duduk perkaranya.
Margareta menjelaskan, pihaknya sudah menyampaikan masalah itu kepada
camat Boawae, UPTD Boawae dan PPO. "Kita minta pemerintah agar dalam 1
x 24 jam, anak-anak sekolah harus masuk sekolah lagi," kata Thomas
Tiba. DPRD Nagekeo berjanji secepatnya menyelesaikan persoalan tersebut
agar para murid tidak dikorbakan. (ff)
Penyesalan dan Air Mata
"SELAMAT siang, selamat siang, selamat siang" begitu suara koor dari
murid SD Katolik Kelewae saat memasuki ruang depan gedung DPRD
Kabupaten Nagekeo, Jumat (30/7/2010). Para murid yang mengenakan
seragam merah putih lengkap dengan dasi dan topi itu seakan tidak
peduli dengan ucapan salam mereka yang tidak dijawab penghuni gedung
tersebut.
Maklum saat itu anggota Dewan sudah di dalam ruangan sidang untuk
menerima kedatangan mereka. Beberapa pegawai juga masih sibuk dengan
urusan masing-masing.
Setelah memulai dialog, Ketua DPRD, Gaspar Batu Bata meminta ketua
komite, murid serta kepala sekolah menyampaikan maksud kedatangan
mereka ke rumah rakyat.
Setelah Ketua Komite Fridus Mere, menyampaikan keluhannya, tibalah
giliran murid. Yakobus Deside R Lako dan Yuliana Avilia Bupu Wea
tiba-tiba ditunjuk mewakili 38 temannya untuk berbicara di depan
anggota Dewan, Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (PPO) dan
Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Nagekeo.
"Sekarang saya minta anak murid yang berbicara. Siapa, mana yang kelas
6? Ya, saya minta untuk menyampaikan sesuatu kepada kami," kata Gaspar.
Suasana terdiam sesaat. Yakobus yang mendapat bisikan dari teman
sekitarnya berdiri dan maju menghampiri kursi pimpinan dan anggota
Dewan. Ayunan langkahnya agak kaku, maju lalu berhenti sebentar untuk
mengenakan topi berwarna merah hati yang dipegang tangan kanannya.
Tidak lama berselang, Yuliana pun maju. Kedua murid kelas 6 ini berdiri
berimpitan didampingi kepala sekolah, Margareta To.
Yakobus dan Yuliana menjadi pusat perhatian para anggota Dewan dan
aparat pemerintah Kabupaten Nagekeo yang hadir saat itu. "Kami menyesal
karena sudah lima hari kami tidak sekolah," ujar Yakobus. Hanya itu
ungkapan hatinya. Walau bibirnya agar bergetar tetapi dia berhasil
menyampaikan pesan yang dimengerti oleh semua yang mendengarkan.
Selanjutnya, giliran Yuliana bersuara. Agak gugup namun akhirnya
berhasil menyampaikan aspirasinya. "Kami menyesal, kami sudah lima hari
tidak bisa sekolah karena disegel," kata Yuliana agak terbata-bata.
Mendengar pengakuan polos kedua murid itu, Gaspar Batu Bata meminta
semua yang hadir untuk memberikan aplaus. "Jangan sampai kamu sudah
diajarkan oleh gurumu untuk berkata begitu?" tanya Gaspar kepada
keduanya. Walaupun tidak memberi jawaban dengan suara yang jelas,
keduanya menggelengkan kepala.
Suasana haru terjadi saat Ibu Margareta terisak-isak saat menyampaikan
keluhannya. "Kami minta solusi yang paling baik, karena sudah lima hari
kami tidak sekolah. Ruangan kelas sudah disegel pemilik tanah. Setiap
hari anak-anak datang hanya bersihkan halaman sekolah, lalu bermain dan
pulang ke rumah. Seandainya ruangan TK tidak ditutup, mungkin kami bisa
mengambil kebijakan untuk sekolah di situ. Tetapi semuanya disegel,"
tutur Margareta disertai deraian air mata. Ibu ini merangkap Kepala SD
dan Taman kanak-kanak Budi Luhur Kelewae. Semoga ungkapan polos murid
SD dan air mata ibu kepala sekolah menjadi perhatian. (servatinus mammilianus- ngutip : pos kupang )
Sep
10
Dandim Karangayar Akan Diperiksa Intensif
Sep
10
Helm Istri Hilang, Oknum Polisi Ngamuk
Sep
10
Imigran Gelap Dikawal Salat Id
Sep
10
Kerabat Tak Diizinkan Silaturahmi dengan Baasyir
Sep
10
Ba'asyir Dikunjungi Istri dan Keluarga
Pertanyaan:
pak,kalo akpol di DKI jakarta buka gak?msh dr SMA kan??Qoutanya berapa??
Jawaban:
_ya, smu