UMUM
DAGING SAPI HILANG
Selasa, 22 Januari 2013

Ribuan Pedagang Mogok Berjualan

Daging Sapi Hilang


m. fadlillah/gm
DAMPAK aksi mogok pedagang, kios daging sapi di pasar-pasar tradisional di kawasan Bandung Raya, kosong melompong, Senin (21/1).
SOREANG (GM) - Aksi mogok yang dilakukan pedagang daging sapi melumpuhkan perdagangan daging sapi di sejumlah pasar tradisional di Kab./Kota Bandung, termasuk di Kota Cimahi, Senin (21/1).
Seperti di Pasar Soreang, Ciparay, Sayati, dan Pasar Banjaran. Puluhan kios daging sapi kosong melompong. Tak satu pun pedagang daging sapi berada di dekat kios-kios yang biasanya terlihat gantungan daging sapi.

Jumlah pedagang daging sapi di Kabupaten Bandung lebih dari 400 orang dan 150 pemotong. Pasca-Iduladha, telah terjadi kelangkaan sapi potong di Kabupaten Bandung, dan umumnya di Jawa Barat. Kondisi tersebut berlangsung hingga saat ini.

Salah seorang pedagang daging sapi di Pasar Ciparay, Nia Risnawati (43) mengatakan, pedagang mendukung aksi mogok karena hingga kini masalah kelangkaan sapi potong belum dapat diatasi pemerintah pusat. Kalaupun tetap berjualan, pedagang sulit untuk mendapatkan sapi potong.

"Pedagang paham dengan tindakan ini, makanya sebelum mogok terlebih dahulu memberitahukan kepada pedagang bakso dan pengusaha rumah makan. Sehingga sehari sebelum mogok, pedagang bakso dan pengusaha rumah makan melakukan aksi borong. Bila yang biasanya cuma beli 4 kilogram, ditambah jadi 8 kilogram," kata Nia.

Sementara itu, aksi mogok pedagang daging sapi di Pasar Soreang, membawa berkah bagi pedagang daging ayam. Pasalnya, pedagang bakso, pengusaha restoran, dan konsumen banyak mengalihkan daging sapi ke daging ayam.

Seperti dituturkan pedagang daging ayam, Jojo Junaedi (47), pada saat pedagang daging sapi berjualan, penjualan daging ayam rata-rata 45 sampai 50 kg/hari. Namun saat pedagang daging sapi mogok jualan, penjualannya menembus 70 kg.

"Sampai tengah hari ini saja daging ayam yang laku terjual sudah 70 kg. Saya yakin kalau sampai sore bisa bertambah lagi," kata Jojo Junaedi kepada "GM" di Soreang, Senin (21/1).

Ia memprediksi harga daging ayam akan melonjak apabila pedagang daging sapi masih tutup. Lonjakan harga itu terjadi bukan karena pedagang menerapkan aji mumpung dengan memanfaatkan hilangnya daging sapi di pasaran.

"Pedagang tidak bisa menaikkan harga seenaknya. Kenaikan itu selalu berawal dari peternak yang berimbas ke pedagang. Tidak tertutup kemungkinan harga daging ayam bisa sampai menembus Rp 32.000 per kilogram," ujarnya.

Hilang di pasaran

Sementara itu, penjualan daging sapi di pasaran Kota Bandung hilang, menyusul aksi mogok jualan yang dilakukan oleh ribuan pedagang. Aksi mogok ini direncanakan akan berlangsung hingga hari Rabu besok.

Hasil pantauan "GM" di Pasar Kosambi dan Pasar Cihaurgeulis, tidak ada seorang pun pedagang daging sapi yang jualan. Aksi mogok jualan dilatarbelakangi kenaikan harga daging sapi yang terus-menerus. Para pedagang pun semakin gelisah dengan kenaikan harga daging sapi (karkas) di tingkat rumah potong hewan dalam seminggu terakhir ini.

Apalagi kenaikan daging sapi karkas pun naik dua kali dalam seminggu, sehingga merugikan para pedagang. Sementara para pedagang tidak bisa menaikkan harga jual ke konsumen, karena harga daging sapi saat ini sangat tinggi, mencapai Rp 100.000/kg. Sementara untuk daging has dalam mencapai Rp 120.000/kg.

Ketua Persatuan Pedagang dan Warung Tradisional (Pesat) Kota Cimahi, Agus Rudianto mengaku prihatin atas kondisi para pedagang daging sapi. Karena itu, aksi mogok jualan yang dilakukan para pedagang masih wajar.

Tak ada pemotongan

Dampak dari mogoknya pedagang daging sapi memaksa lima rumah pemotongan hewan (RPH) yang ada di Kota Bandung, tidak melakukan pemotongan sapi.

Hal tersebut diungkapkan Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Dispertan) Kota Bandung, Dedy Mulya, saat ditemui di sela HUT LVRI di Pendopo kota Bandung, Jln. Dalem Kaum, Senin (21/1).

Pemotongan sapi di 5 RPH normalnya sebanyak 100-150 ekor/hari. Namun dalam beberapa hari sejak mahalnya harga daging sapi, pemotongan hanya berkisar 80-90 hari/ekor.

"Malahan sejak semalam enggak ada pemotongan sapi, karena memang para pedaganganya mogok," ungkap Dedy sambil menambahkan, RPH tersebut yaitu Ciroyom, Cirangrang, Regol, Cijawura, dan Virgo.

Terkait aksi mogok, Dedy mengapresiasinya. Namun, diharapkan Jabar tidak bergantung pada sapi impor dari negara lain atau daerah lain. Karena, Jabar sendiri merupakan daerah yang cukup luas dan bisa mengembangbiakkan sapi.
(B.104/ B.99/B.95/B.35/B.109-ngutip :galamedia)**

BERITA UMUM LAINNYA
Lihat Berita Lainnya »
SUARA RAKYAT
P : Ijin pak?Terimakasih sebelumya.Untuk pendaftaran scaba polri gelombang 2 tahun 2010 untuk polda jambi ada tidak ?Dan kalo tidak ada apakah polda daerah yg lain ada?Apakah semua polda indonesia tidak sama jadwal penerimaannya pak?
J : _maret 20 11