UMUM
NABI IBRAHIM TELADAN SEPANJANG MASA
Jumat, 4 Oktober 2013

Nabi Ibrahim Teladan Sepanjang Masa

Jumat, 4 Oktober 2013 00:44 WITA

Oleh: Drs Ilham Masykuri Hamdie MAg
Ketua Bidang Kerohanian Dewan Pengurus Korpri Kalimantan Selatan

Beberapa hari lagi kita akan memasuki bulan Dzulhjjah, di mana kita akan merayakan Iduladha. Setiap merayakannya, kaum muslimin selalu mengingat keterkaitannya dengan pengalaman rohani seorang tokoh, pemimpin umat manusia, yaitu Nabi Ibrahim AS. Beliau adalah sang Kekasih Tuhan, yang dipandang sebagai nenek moyang dari tiga agama yaitu Yahudi, Nasrani dan Islam.

Malahan Iduladha dan ibadah haji yang dilaksanakan di Tanah Suci, dapat dikatakan sebagai usaha pelestarian pengalaman rohani Nabi Ibrahim beserta istri dan putranya, yang menjadi figur sejarah yang memancarkan citra keimanan untuk diteladani sepanjang masa.

Dalam sejarah agama, Ibrahim dianggap sebagai Bapak Monoteisme, Proklamator ajaran Tauhid, dan Penyeru keadilan. Namanya disebut dalam Alquran sebanyak 69 kali dalam 24 surah. Tokoh utama dan penting dalam sejarah agama Yahudi, Kristen, dan Islam ini, diyakini lahir di kota Ur sekitar pada 2166 SM dan putra seorang yang bernama Aazar.

Ada sumber yang menyebut bahwa nama aslinya adalah Abram (secara etimologis berasal dari Abiram yang berarti terpujilah bapak. Lalu berubah menjadi Ibrahim atau Abraham (yang berarti bapak sejumlah bangsa), setelah kelahiran putra pertamanya Ismail.

Salah satu keistimewaan Nabi Ibrahim yang tampil dalam pentas sejarah sekitar 4.000-an tahun yang lalu adalah, beliau memperoleh pengertian tentang Tauhid melalui perjuangan berpikir yang tajam dan kritis sejak muda.

Pengembaraan berpikir untuk menemukan keyakinan Tauhid dilakukan dengan mengamati gejala-gejala alam, bintang-bintang, bulan dan matahari. Dengan usaha itu beliau mengambil kesimpulan bahwa semua benda-benda itu tidak layak dianggap sebagai Tuhan. Tuhan yang sebenarnya adalah dzat yang menciptakan langit dan bumi.

Dalam memperjuangkan kalimat Tauhid itu, Nabi Ibrahim adalah seorang figur yang pantang menyerah. Tidak tunduk kepada tekanan apa pun, walau harus menerima cobaan yang berat, harus berpindah-pindah tempat, dari tanah kelahiran Ur (di sekitar Irak), ke Harran (Turki), kemudian berpindah ke Palestina (tanah Kanaan), ke Mesir, lalu bolak-balik antara Palestina  dan Mekkah (tanah Arabia).

Perpindahan tersebut tidak menyurutkan semangat beliau, malah justru semakin memperluas penyebaran ajaran Tauhid di berbagai daerah tersebut.

Salah satu episode menarik dari kisah pemimpin umat manusia ini adalah, Nabi Ibrahim, sang ayah, menerima perintah Tuhan melalui mimpi yang benar untuk mengorbankan, menyembelih putranya tercinta Ismail, yang telah hidup terpisah kurang-lebih 12 tahun.

Dengan sikap pasrah kepada Tuhan, Nabi Ibrahim memutuskan untuk melaksanakan perintah tersebut. Keputusan ini nantinya membawa kepada pengalaman-pengalaman rohani yang dimulai dari Makkah, Arafah dan Mina, kemudian kembali ke Makkah.

Pengalaman-pengalaman itulah kemudian yang menjadi upacara-upacara ibadah haji yang mengandung makna dan sumber pelajaran yang mendalam dan luas bagi umat manusia secara keseluruhan sampai akhir zaman.

Ketika peristiwa pengurbanan Nabi Ibrahim terjadi, sesungguhnya umat manusia berada di persimpangan jalan pemikiran, antara yang ingin mempertahankan pengorbanan masih berwujud manusia, dan yang beranggapan bahwa manusia terlalu mulia untuk dikorbankan. Di sinilah ajaran yang dibawa oleh Ibrahim AS memberi jalan keluar yang memuaskan yaitu melalui peristiwa pengorbanan Ismail, yang kemudian digantikan dengan seekor domba.

Peristiwa ini mengajarkan bahwa jiwa manusia bukanlah sesuatu yang berarti jika Allah telah memintanya. Tidak ada sesuatu yang dinilai terlalu berharga jika dihadapkan dengan perintah Allah. Tetapi, ini juga bukanlah berarti merendahkan nilai kemanusiaan, sebab pengorbanan itu telah diganti dengan penyembelihan hewan.

Peristiwa pengurbanan Nabi Ibrahim yang puncaknya dirayakan sebagai Iduladha ini, harus mampu mengingatkan kita. Yang dikorbankan tidak boleh manusia, tapi sifat kebinatangan yang ada dalam diri manusia seperti kerakusan, ambisi yang tak terkendali, hasrat menyerang, sikap tidak taat hukum dan sebagainya. Sifat-sifat itu harus dibunuh, ditiadakan dan dijadikan korban demi untuk mencapai qurban (kedekatan) diri kepada Allah.

Ibrahim adalah figur manusia yang harus dicontoh. Beliau digelari Raushan Dhamir, seseorang yang memiliki pandangan batin yang kuat, tajam dam cerah. Dia mampu melihat hakikat sesuatu, hingga tidak terpengaruh oleh gejala sesaat dari sosial lingkungannya.

Ibrahim juga digelari dengan Raushan Fikir, seseorang yang memiliki pemikiran yang tajam, cerah dan cerdas, yang mampu membangkitkan kesadaran masyarakat untuk mengubah keadaan yang statis dan bobrok menjadi dinamis dan kreatif.

Dengan ketajaman pemikirannya, beliau menyampaikan kritik-kritik, anjuran-anjuran dan petunjuk-petunjuk bagaimana cara dan arah pengembangan masyarakat yang berdasarkan nilai-nilai Tauhid. Itulah gambaran Nabi Ibrahim, figur pemimpin umat yang melaksanakan tugas dengan landasan ajaran Tauhid.

Selain sebagai imam umat manusia, beliau juga adalah figur seorang ayah yang bijaksana. Meski berada dalam tugas keagamaan dan kemanusiaan yang begitu mendebarkan, beliau ternyata tak melupakan fungsinya sebagai seorang ayah, seorang pendidik yang berusaha menghargai hak berpendapat dari putranya sendiri Ismail. Dia membimbing Ismail untuk memahami kebenaran dengan cara-cara yang lugas namun demokratis.

Alquran merekam dialog yang bersejarah antara ayah dan anak ini dalam surah as-Shaffat 102. Ibrahim berkata: Hai anakku! Aku menerima perintah melalui mimpi dalam tidurku agar menyembelihmu. Karena itu bagaimana pendapatmu wahai anakku.

Ternyata Ismail juga adalah anak muda, generasi penerus yang sabar. Dia tak meragukan sedikit pun komitmen sang ayah. Dia tak kehilangan kepercayaan atas dedikasi dan integritas orangtuanya. Dia juga tak pernah meragukan keyakinannya kepada Allah. Jawaban Ismail adalah pernyataan kepatuhan total pada Allah.

Sekali lagi Alquran merekam jawaban anak muda ini: Wahai ayahku! Laksanakanlah apa yang diperintahkan Tuhan kepadamu (meski itu menyangkut hidup dan matiku). Insya Allah ayah akan mendapati aku termasuk orang yang sabar.

Di antara ayah dan anak ini, terdapat sosok perempuan bernama Hajar. Dia adalah figur seorang ibu, seorang istri yang penuh percaya diri dan kesetiaan. Dia tak mengenal putus harapan akan karunia Allah, walau harus menjalani saat-saat penderitaaan dalam kesendirian.

Dia mengandung, melahirkan, dan mengasuh putranya Ismail seorang diri karena ditinggal suami yang bertugas melaksanakan kewajiban keagamaan dan kemasyarakatan. Keteguhan hati perempuan agung inilah yang tergambar dalam kisah pengalaman Sai, berlari antara Shafa dan Marwa untuk mendapatkan minuman, sumber kehidupan bagi putranya Ismail, dan akhirnya menemukan sumber mata air zamzam yang termasyhur itu.

Kisah ketiga figur sejarah ini yang terkumpul dalam dalam satu himpunan keluarga: ayah, ibu dan anak, semuanya dikehendaki Allah SWT untuk dijadikan sebagai uswatun hasanah, contoh teladan bagi kita semua.

Citra keimanan keluarga ini menjadi pusat-pusat penggambaran yang lengkap dari segi peran dan sikap yang seharusnya diambil seorang manusia yang bertauhid dalam mengemban peran dan tugas-tugas dalam kehidupan ini.

Disebutkan dalam surah al-Mumtahanah 4: Sungguh kamu sekalian mendapatkan uswatun hasanah (teladan yang baik) pada pribadi Ibrahim dan orang-orang yang menyertainya.

Demikianlah, kehadiran Iduladha selalu mengingatkan kita semua akan figur-figur penggambaran bagi seorang suami, ayah, dan pemimpin masyarakat ketika harus menjawab realitas tuntutan kehidupan. Dia tetap memenangkan iman dari godaan hawa nafsu.

Hajar adalah gambaran bagi kaum ibu, seorang istri yang setia, tabah dan penuh percaya diri dalam mengasuh dan mendidik generasi yang dilahirkannya, agar menjadi anak yang shaleh dan diridhoi.

Dan, Ismail menjadi lambang bagi generasi muda yang sanggup berpihak kepada kebenaran, walaupun nyawa sendiri jadi taruhannya. Dia menjadi pusat gambaran keimanan generasi muda yang siap membantu tugas pengabdian generasi tua dalam menegakkan kebenaran.

Sungguh, Iduladha memang telah menyajikan kepada kita gambaran-gambaran orang-orang yang kokoh keimanannya, yang tidak tergoda dan tunduk kepada kepentingan sesaat. Di sinilah kita harus mampu memiliki komitmen untuk kembali memperkukuh sikap hidup secara benar sesuai dengan citra keimanan, yaitu menegakkan nilai-nilai Tauhid sebagai sebuah kebenaran yang mutlak, demi  memperjuangkan keadilan sosial dan nilai-nilai kemanusiaan yang mulia. (*)


Editor: Dheny

BERITA UMUM LAINNYA
Lihat Berita Lainnya »
SUARA RAKYAT
P : Ijin pak?Terimakasih sebelumya.Untuk pendaftaran scaba polri gelombang 2 tahun 2010 untuk polda jambi ada tidak ?Dan kalo tidak ada apakah polda daerah yg lain ada?Apakah semua polda indonesia tidak sama jadwal penerimaannya pak?
J : _maret 20 11